
KABAR BERITA | www.pa-mempawah.go.id
Tahun Baru Hijriyah atau Tahun Baru Islam merupakan suatu hari yang penting bagi umat Islam karena menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam yaitu memperingati hijrahnya Nabi Muhammad saw. Dari Kota Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 1 Muharam tahun baru bagi Kalender Hijriyah. Tahun hijrahnya Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah itulah diambil sebagai awal perhitungan bagi Kalender Hijriyah.
Penetapan ini ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab berdasarkan hasil musyawarah para sahabat dan para pemuka masyarakat saat itu. Dalam musyawarah tersebut, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang mengusulkan agar kalender Islam dimulai sejak hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah.
Ungkapan rasa syukur ini kita ukur dengan muhasabah, dengan mengintrospeksi diri dan berdoa. Pelajaran dari pergantian tahun yang secara filosofis diajarkan oleh Sayyidina Usman bin Affan. Alkisah ketika polemik panas terjadi dalam penentuan tahun Islam, ada banyak pilihan, antara lain dihitung sejak kelahiran Nabi, sejak turunnya wahyu pertama, atau sejak kerasulan. Dengan cerdas Usman r.a. mengusulkan tonggak sejarah yang ditandai oleh peristiwa Hijrah Nabi Muhammad saw. dan tahunnya menjadi tahun Hijriyyah. Filosofi beliau, “Al-hijratu farraqat baina al-haqqi wa al-bathil.” Bahwa hijrah itu penanda nyata beda antara yg benar dan haq; dengan yang bathil atau kegelapan,” ujarnya.
Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa hijrah ini. Dimana tahun 1443 H diwarnai dengan begitu banyak cobaan dan krisis, maka di tahun yang baru ini mari kita lebih dewasa dan cerdas dalam menghadapi seluruh cobaan, menyadari bahwa cobaan ini tidak tahu kapan berhenti dan hanya bisa tertanggulangi ketika kita saling peduli, sembari senantiasa mendekatkan diri kepada Ilahi Robbi. Itulah solusi untuk berubah dari tahun 1443 H menuju 1444 H, kegelapan menuju jalan terang. Tanpa itu semua niscaya bangsa ini akan berubah dari kegelapan menuju kegelapan lagi, dan bahkan lebih gelap, karena Tuhan telah mengingatkan ketika manusia sudah lupa diri itu bagai binatang dan bahkan lebih rendah lagi, na’udzubillah.
Muharram adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (haram) dalam Alquran. Adapun peringatan Tahun Baru Islam ditandai dengan perjalanan dakwah Rasulullah dari Makkah ke Madinah, yang dipatenkan pada masa Umar bin Khattab r.a. sebagai 1 Muharram atau awal tahun Islam. Menandai datangnya awal tahun, selain merayakannya dengan kegembiraan, kita juga harus bermuhasabah, mensyukuri bertambahnya umur, nikmat sehat, dan masih berkesempatan untuk hidup dengan baik. Dunia dalah tempat untuk mendulang amal sholeh, maka manfaatkan kesempatan ini untuk mengintrospeksi diri dan meningkatkan keimanan kita
Sabda Rasulullah saw. kebanyakan manusia tertipu dengan dua kenikmatan, yaitu sehat dan kesempatan (peluang). Melalui muhasabah, manusia dapat disadarkan dan terhindar dari tipu muslihat yang menyesatkan, semoga dengan muhasabah kita bisa gunakan kesempatan yang akan datang untuk lebih baik.
Seluruh umat Muslim untuk terus meningkatkan amal sholeh meski di tengah kesulitan seperti saat ini. Bersabar dan terus bermuhasabah adalah cara yang paling tepat untuk mengawali datangnya tahun yang baru. Mari kita rayakan tahun baru Islam dengan memperbanyak dzikir, doa, dan munajat, bahkan berpuasa.
Momentum peringatan tahun baru hendaknya dijadikan sebagai media introspeksi untuk hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, bahwa dengan perpindahan tahun, setiap individu khususnya umat muslim harus terus istiqomah dan meningkatkan amaliyah baik itu yang berhubungan dengan Allah Swt. maupun dengan sesama manusia. Oleh sebab itu marilah kita selalu muhasabah sudah sampai dimana kontribusi kita terhadap islam ini, apa dan apa pula yang sudah kita berikan kepada islam agama Allah Swt. ini.
Hisablah diri kalian sebelum di hisab oleh Allah Swt. Sebab tidak seorang pun di dunia ini mengetahui kapan ajal kita datang, dimanapun kapan pun ajal pasti akan menjemput, untuk itu marilah kita selalu menghisab diri, sudah siap kah kita untuk menuju kematian. Dan yang tidak kalah penting adalah apa yang kita tinggalkan buat generasi sesudah kita, supaya hidup ini membawa manfaat bagi orang lain dan yang ditinggalkan. (Adi)












